Kita mungkin sering mendengar hadits yang berbunyi: Surga itu ada
di telapak kaki seorang ibu. Ini menunjukkan bahwa Islam menempatkan
posisi ibu dalam kedudukan mulia. Tapi kenyataannya masih ada yang
menganggap peran ibu itu remeh dan melelahkan. Sehingga ada saja
muslimah yang sering mengeluh dengan beratnya tugas seorang ibu. Topik
kita kali ini adalah Bahagianya menjadi seorang ibu. Mudah-mudahan bisa
membuat peran ibu yang sekarang sedang dijalani oleh para ibu menjadi
lebih ringan dan membahagiakan. Kita akan berbincang-bincang
dengan Ustzh Ir Lathifah Musa, Beliau adalah Konsultan Keluarga Sakinah
dari Klinik Anak Muda untuk Pergaulan Islami.
Ustadzah, masih ada nggak sih muslimah yang merasa berat menjadi seorang ibu?
Di era seperti sekarang, ketika pemikiran kapitalis, sekularis dan
materialis menyusup masuk ke celah-celah kehidupan keluarga muslim
memang mulai ada ide-ide dan konsep yang mengganggu kenyamanan kaum
muslimin dalam mewujudkan profil keluarga muslim. Seperti misalnya
pemikiran moderat yang mengatakan bahwa peran keibuan itu menghalangi
perempuan untuk bisa eksis di dunia public, sehingga janganlah muslimah
dicekoki dengan pemahaman-pemahaman tradisional. Maksudnya pemahaman
yang menempatkan perempuan melulu menjadi seorang ibu dan mulia hanya
dengan menjadi seorang ibu. Padahal saat ini, dunia membutuhkan kiprah
aktif muslimah di sector public. Jadi mereka mempertentangkan antara
peran ibu dengan peran public. Kemudian pemikiran kapitalis dan
materialis juga membuat perempuan berbondong-bondong keluar untuk full
di dunia kerja. Gaya hidup konsumtif dengan iming-iming barang-barang
yang dipromosikan media seperti busana modis, alat-alat elektronik,
sepatu dan tas maha. Bahkan tas yang ditenteng dengan merk mahal menjadi
bagian dari gaya hidup tersendiri wanita eksekutif perkotaan. Dianggap
mereka yang ngerti mode dan barang-barang bermerk adalah mereka yang
bisa menyesuaikan diri dengan gaya hidup social modern perkotaan.
Diistilahkan sosialita. Padahal barang-barang konsumtif memerlukan biaya
dan ternyata juga membuat para perempuan menjadi gila belanja. Mereka
melihat gaji suami nggak akan bisa memenuhi selera gila belanja ini.
Akhirnya para perempuan memerlukan bekerja untuk mencari uang, tidak
sekedar membantu suami mencari nafkah tetapi juga untuk memenuhi pola
hidup yang sudah konsumtif. Inilah sebabnya mengapa ibu-ibu karir yang
sebenarnya gaji suami itu sudah cukup untuk mebiayai rumah tanga,
akhirnya tetap bertahan di dunia kerja, sekalipun meninggalkan anak. Ini
karena sudah ada pola hidup tertentu tadi. Di satu sisi akhirnya para
suami pun merelakan, termasuk anak-anaknya ditinggal seharian di kantor.
Karena akhirnya suami tidak terbebani membiayai belanja istri, dan
suami pun juga bisa menyisihkan uangganya untuk keperluan pribadinya.
Inilah gaya hidup kapitalis yang mulai mempengaruhi kaum muslimin yang
membentuk toleransi tinggi ketika seorang ibu meninggalkan anaknya yang
masih kecil untuk bekerja seharian di kantor. Bahkan anak hanya mendapat
ASI yang sedikit karena masa cuti ibu tidak bisa lebih dari tiga bulan.
Biasanya akhirnya anak hanya mendapat ASI selama dua bulan saja. Kalau
kita mengatakan lebih mulia jadi ibu, mereka mengatakan berat. Kadang
lebih enak di kantor. Anak dengan pembantu. Kalau pembantu libur,
biasanya cuti lebaran, ibu-ibu ini sering mengeluh ketika mengurusi anak
mereka sendiri yang masih kecil. Seeprti kerja rodi, lebih enak
seharian di kantor. Kenyataannya banyak ibu-ibu yang seperti ini. Jujur
saja…
Bagaimana caranya kita merasa bahagia menjadi seorang ibu.
Bahkan kebahagiaan ini akhirnya bisa kita pertukarkan dengan karir kita
di kantor?
Kita perlu sejenak merenung. Apa sih yang kita cari dalam hidup ini.
Apa hidup kita itu untuk selamanya. Ini ketika naluri kita yang berat ke
anak sudah mulai terkikis dengan imbalan karir dan gaji yang kita dapat
di kantor. Di situlah nati kita akan kembali, toh hidup akan berakhir.
Dan akhir yang baik adalah menjadi orang baik. Bagaimana sih kriteria
menjadi orang baik dan muslimah yang baik. Tentu yang harus sesuai
dengan keridhoan Allah SWT Pencipta kita. Apa sih amal yang paling pokok
bagi seorang muslimah, sehingga nanti amal-amal yang lain akan selalu
lebih mengutamakan amalan tersebut. Di sinilah para muslimah harus
mengerti Islam. Karena hanya dengan Islam (hukum-hukum Allah) kita bisa
tertunjuki untuk menjadi muslimah yang baik. Ternyata Islam sangat
memperhatikan dan menekankan pentingnya peran ibu. Tidak sekedar untuk
kepentingan ibu, tetapi juga untuk kepentingan keluarga, masyarakat dan
negara. Bahkan ada pujian pada peran ibu ini dalam sebuah hadits: al
Jannatu tahta aqdaamil ummahaati. Surga itu di bawah telapak kaki
seorang ibu (HR Ahmad). Yang dimaksud ummahaati adalah seorang ibu yang
menjalankan peran keibuan. Bukan sekedar ibu biologis saja. Kemudian
.Rrasulullah Saw bersabda: “…al Mar’atu raiyyatun alaa baiti ba’liha wa
waladihi wa huwa mas’ ulatun an raiyyatiha.” HR Muslim. Dari sini bisa
diambil kaidah ushul bahwa al ashlu fil mar ati al ummu wa robbatul
baiti. Hukum pokok bagi perempuan adalah ibu dan pengelola rumah
tangga.[]
Sumber : http://mediaislamnet.com/2010/01/bahagianya-menjadi-seorang-ibu/

